Menanggapi Halloween 31 Oktober

0
88

Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk (Amsal 10:7) dan Ibrani 11:32-12:3. Kata Halloween berasal dari kata All Hallows’ Eve.

Itu merupakan malam sebelum sebuah hari libur keagamaan di negara Inggris pada Abad Pertengahan, yang kemudian dikenal sebagai hari para orang kudus. Hari itu merupakan hari yang dikhususkan oleh gereja untuk mengenang orang-orang kudusnya.

Namun, perayaan Halloween pada zaman sekarang ini lebih mirip dengan kebiasaan-kebiasaan kafir yang berasal dari Eropa Kuno. Orang-orang terpandang pada zaman itu percaya bahwa roh-roh orang mati gentayangan pada malam tanggal 31 Oktober, sehingga mereka menyalakan obor dan meletakkan makanan bagi pengunjung yang tidak diharapkan ini. Mereka melakukan hal itu karena merasa takut. Mereka berpikir bahwa mereka akan dilukai jika tidak melakukannya.

Alkitab memperingatkan kita untuk tidak bermain-main dengan hal gaib ataupun terobsesi oleh penyihir dan roh orang mati. Lalu apakah yang dapat dilakukan oleh orang-orang kristiani? Seorang pendeta yang kreatif mengadakan pertemuan khusus.

Ia meminta beberapa jemaat gereja untuk datang dengan mengenakan kostum pahlawan Alkitab dan orang kudus besar di dalam sejarah gereja. Dengan cara yang dramatis mereka mengingat kecukupan anugerah Allah di dalam hidup umat-Nya.

Ya, teladan para saksi yang seperti awan yang mengelilingi kita, seperti yang disebutkan di dalam Ibrani 12:1, telah menguatkan iman kita. Mengingat mereka di hari Halloween dapat mengingatkan kita akan kemenangan karena memercayai Tuhan [Sumber : sabda.org-Herb Vander Lugt/Foto : Istimewa].

HADIAH TERBESAR YANG DAPAT DIBERIKAN SESEORANG BAGI KITA ADALAH TELADAN YANG SALEH

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here