Di Tengah Patah Hati Hebat yang Kualami, Tuhan Memulihkanku

0
30

Oleh Lidia, Jakarta

Di bulan Maret 2010, aku pertama kali berpacaran dengan seorang pria. Dia adalah teman sekelasku di bangku kuliah. Dia tumbuh baik di keluarga Kristen dan kupikir karena kami adalah pasangan yang seiman, maka kami pasti mampu menghadapi badai apapun di depan kami. Jadi, saat itu aku pun berpikir kalau pacarku itu kelak akan menjadi calon suamiku. Namun, pada tahun 2010, aku dinyatakan memiliki tumor di kedua payudaraku. Waktu itu usiaku masih 20 tahun dan kenyataan ini membuatku sangat sedih. Aku bertanya-tanya mengapa aku harus mengalami penyakit ini di saat aku bahkan belum lulus kuliah.

Aku menceritakan pergumulan ini dengan terbuka kepada pacarku. Dia mengatakan kalau dia menerima kondisiku. Namun, beberapa hari sebelum aku menjalani operasi pengangkatan tumor, pacarku meneleponku. Dia berkata kalau dia menceritakan keadaanku kepada ibunya, tapi ibunya merespons dengan meminta dia untuk segera memutuskan hubungan denganku. Ibunya khawatir apabila di kemudian hari jika aku menikah dengannya, aku terkena kanker dan akan menghabiskan uang putranya.

Mendengar hal itu, aku menangis dengan perasaan sangat sedih. Dalam hatiku juga timbul amarah karena aku tidak habis pikir mengapa ibunya dapat berpikir setega itu. Aku tidak berdebat dengan pacarku setelahnya. Tapi, pikiranku jadi sangat kacau, padahal seharusnya aku menyiapkan diriku untuk menjalani operasi. Aku menyimpan hal ini rapat-rapat. Aku tidak menceritakannya kepada siapapun, termasuk kedua orang tuaku.

Singkat cerita, Tuhan sangat baik, operasiku berjalan lancar. Tapi, pasca operasi saat aku sadarkan diri, aku menangis sangat keras. Aku masih teringat jelas kata-kata dari ibu pacarku itu. Pacarku masih menjengukku, namun di hari kedua setelah aku dioperasi, dia meneleponku dan berkata kalau dia tidak dapat lagi mengunjungiku di rumah sakit. Ibunya melarang dia untuk menemuiku.

Melanjutkan hubungan tanpa kepastian

Meski sudah dilarang oleh ibunya, kami masih sering bertemu. Aku tahu kalau hubungan ini bukanlah hubungan yang sehat. Tapi saat itu aku masih belum paham apa itu hubungan yang sehat. Selama tiga tahun kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi.

Aku sadar bahwa hubungan kami ini tidak ada kepastian, tapi aku terjebak dalam dilema. Di satu sisi aku merasakan kepahitan, sakit hati akibat kata-kata dari ibu pacarku. Di sisi lainnya, aku takut kehilangan pacarku. Aku berpikir kalau aku putus dengannya, tidak mungkin ada orang lain yang mau menerima keadaan fisikku yang sudah dioperasi kedua payudaranya. Aku pun merasa tidak ingin bercerita kepada orang lain (saat teman-teman meledekku selalu makan makanan sehat) kalau aku pernah operasi tumor payudara. Aku merasa takut kalau orang lain pun mungkin akan mengatakan hal yang sama seperti yang ibu pacarku ucapkan.

Pacarku pun diliputi perasaan bimbang. Dia bingung apakah harus memutuskan relasi ini atau tidak. Dia mengatakan bahwa apa yang ibunya katakan tidak sepenuhnya benar dan dia ingin melanjutkan relasi denganku. Tapi, di sisi lainnya, sebagai anak dia tidak dapat melawan orang tuanya. Akhirnya, aku pun menceritakan pergumulan ini kepada kedua orang tuaku. Mereka mengatakan apa yang dikatakan oleh ibu pacarku itu wajar, karena sebagai orang tua mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Lalu kedua orang tuaku pun menyarankanku lebih baik untuk putus.

Relasiku dengan Tuhan pun terasa semakin hambar. Hatiku jauh dari Tuhan dan aku merasa tidak ada lagi damai sejahtera. Meski aku masih berdoa, tapi aku tidak merasakan ada hadirat Tuhan dalam hidupku. Ada dorongan dalam hatiku untuk berani mengambil keputusan, tetapi aku masih bersikukuh untuk bertahan dalam hubungan yang tidak jelas ini, sekalipun hubungan kami saat itu sudah dipenuhi dengan pertengkaran.

Berakhir dengan patah hati namun Tuhan memulihkanku

Sampai suatu ketika, pacarku memberitahuku kalau dia sudah memiliki teman perempuan lain, dan saat itu mereka sedang pergi berdua saja ke luar kota. Sejak dia mengatakan itu, maka hubungan kami pun berakhir. Aku menangis dan merasa terpuruk. Aku merasa tidak berharga dan kehilangan akal sehatku. Namun, aku teringat untuk menghubungi beberapa teman seimanku dan itulah kali pertama aku menceritakan masalahku kepada mereka. Dengan jujur aku bercerita kalau aku merasa sakit hati oleh perkataan ibu mantan pacarku, juga alasan mengapa aku tetap bertahan dalam hubungan yang tidak jelas karena aku khawatir apabila tidak ada orang lain yang mau menerimaku apa adanya. Malam itu, aku menangis di hadapan Tuhan dan aku benar-benar meminta pertolongan dari-Nya.

Kemudian aku teringat kembali akan sebuah ayat dari Mazmur 34:19, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Aku merasa Tuhan berbicara kepadaku melalui ayat ini. Kemudian, dalam hatiku aku mendengar Dia berkata, “Anak-Ku, tidak percayakah kamu dengan-Ku? Aku, Tuhan, Mahakuasa, berkuasa atas kehidupan ini.”

Sejujurnya, bisikan Tuhan dalam hatiku itu sudah sering kudengar dulu, tapi itu tidak membuatku merasa sukacita dan damai. Aku masih takut kehilangan pacarku dan sebagainya. Tapi, detik itu juga, ketika aku benar-benar berserah memohon pertolongan Tuhan, aku sadar bahwa di dunia ini semua orang bisa meninggalkan kita. Hanya ada satu Pribadi yang bisa kita percaya dan andalkan, Dialah Tuhan Yesus.

Selama seminggu setelahnya, aku bergumul untuk melanjutkan hidupku. Aku merasa broken bukan hanya karena putus, tetapi karena aku merasa diriku tidak berharga dan mungkin pria-pria lain akan takut dengan wanita sepertiku. Kata-kata dari ibu mantan pacarku masih bergema dalam diriku. Rasa sedih masih sering muncul dan saat aku sedang sendirian di kantor, aku pun menangis. Namun Tuhan kembali menguatkanku. Dia mengajakku untuk melepaskan kesedihanku, memaafkan mereka yang telah menyakitiku, dan percaya sepenuhnya kepada-Nya. Hari itu juga aku berkomitmen untuk move-on dan puji Tuhan, dalam hari-hariku setelahnya, Tuhan mengaruniakanku kedamaian dan sukacita. Hingga akhirnya, saat ini aku tidak lagi merasa kecewa ataupun terpuruk atas segala pengalaman yang telah kulalui tersebut.

Mengampuni memang bukan perkara yang mudah. Tapi ketika Tuhan berbicara kepadaku, aku sadar bahwa aku juga manusia yang pernah mengecewakan hati Tuhan. Tapi, Tuhan mau mati untukku di kayu salib untuk mengampuni dosa-dosaku. Lalu, siapakah aku yang tidak mau mengampuni orang lain?

Aku merasakan dan mengecap bahwa Tuhan itu teramat baik dalam kehidupanku. Bukan karena jalan hidupku selalu lancar, tetapi Tuhan selalu menolongku tepat pada waktu-Nya. Tuhan menolongku bukan hanya saat ketika aku bergumul dengan mantan pacarku, tetapi juga dalam studi S-2ku dan juga pekerjaan yang kutekuni sekarang.

Hal lainnya yang kupelajari adalah meskipun aku sempat menjauh dari Tuhan, tapi sesungguhnya Tuhan tidak pernah menjauh dariku (Ibrani 13:5). Tuhan tetap menerimaku ketika aku datang kepada-Nya. Di dalam doa, aku bisa menumpahkan semua yang kurasakan dan meminta ampun kepada-Nya atas segala kesalahan dan dosaku. Hanya dengan datang kembali pada Tuhanlah maka aku bisa kembali merasakan keintiman dengan-Nya.

Hanya Tuhan sajalah yang mampu memberikan sukacita yang sejati, bukan kesenangan semata yang ada hari ini dan besok hilang karena masalah lain; bukan pula euforia sementara yang ada di dalam hidup kita. Kawan, apapun pergumulanmu, datanglah pada Tuhan Yesus dan mulailah berdoa kepada-Nya sekarang. Percayakanlah masa depan dan harapanmu pada Tuhan Yesus. Andaikan semuanya tidak berjalan sesuai keinginan hatimu, jangan pernah berhenti berharap pada Tuhan Yesus, sebab Tuhan pasti memiliki rancangan yang indah untuk kita. Dan ketika kita bersama-Nya, kita tidak akan kekurangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here