Ketika Aku Hampir Terjebak ke dalam Dosa Hawa Nafsu

0
54

Oleh Fedrica*, Jakarta

Aku adalah mahasiswi semester akhir yang sedang bergelut dengan beragam tugas besar serta Tugas Akhir untuk menyelesaikan studi D-3ku. Selain mengerjakan tanggung jawab kuliahku, aku pun terlibat aktif dalam pelayanan di gereja dan komunitasku. Aku sadar bahwa mengemban tanggung jawab studi di tingkat akhir sembari melakukan pelayanan ini tidak mudah. Aku harus benar-benar berhikmat dan bijak dalam mengelola waktu dan tenagaku.

Dalam mengerjakan Tugas Akhir (TA) itu, aku mengerjakannya bersama seorang teman lelaki di kelasku. Aku menyebutnya sebagai partner TA-ku. Dia merupakan seorang yang pintar, teliti, cermat, juga mampu berpikir kritis. Dia adalah partner yang sangat menolongku. Hampir setiap hari, dari pagi sampai malam, kami bertemu dan mengerjakan tugas akhir kami sedikit demi sedikit. Proses ini melelahkan, tapi juga menyenangkan. Dengan penuh harapan, kami terus berjuang dan bersemangat mengerjakan TA ini.

Dalam waktu sekitar satu bulan kami mengerjakan TA bersama, aku mulai menyadari bahwa relasi kami sepertinya sudah lebih dari sekadar partner TA. Mulai muncul perilaku yang berbeda di antara kami. Kami makin dekat dan partner-ku itu tidak ragu lagi untuk memegang tanganku, bersandar di bahuku, atau memegang pipiku. Aku nyaman dengan sikapnya yang seperti itu. Kupikir semuanya itu baik-baik saja, itu sekadar sikap seorang teman. Menjelang pengumpulan TA, kami makin sering bertemu dan acap kali tidak kenal waktu supaya TA kami bisa segera selesai.

Hingga suatu hari, hanya kami berdua saja yang berada di sebuah kontrakan milik alumni. Tempat ini biasanya selalu ramai karena teman-temanku selalu mengerjakan tugas-tugas kuliah dan belajar bersama di sini. Kondisi saat itu sudah mulai malam. Tubuh kami lelah dan otak pun sudah capek berpikir. Aku mulai kurang fokus dan mengantuk. Tiba-tiba, aku merasa partner-ku mendekatkan tubuhnya kepadaku dan mulai merayuku. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi dia memegang bagian belakang leherku. Aku sempat tidak sadar atas perbuatan itu, tapi sontak aku langsung mendorongnya agar menjauhiku. Aku merasa saat itu dia ingin berbuat jahat kepadaku.

Kami pun saling terdiam. Aku menjaga jarak darinya dan lanjut mengerjakan TA-ku sembari mengirimi chat kepada seorang temanku lainnya yang malam itu akan datang ke kontrakan. Aku melihat wajah partner-ku, tampak ekspresi bersalah. Saat itu aku sadar bahwa sebenarnya tidak baik membiarkan adanya kontak fisik dengan lawan jenis tanpa adanya batasan-batasan yang jelas. Pun, tidak semestinya aku berada hanya dalam kondisi berdua saja dengan lawan jenis, meski itu tujuannya untuk mengerjakan tugas. Berada dalam kondisi seperti itu bisa saja membuatku rentan terhadap godaan dosa hawa nafsu. Aku ingat ayat Alkitab dari Kejadian 4:7 yang berkata, “…dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Dosa seringkali datang menggoda dalam berbagai bentuk, tetapi seperti apa yang Alkitab katakan, aku tidak boleh menuruti godaan itu dan terjatuh ke dalam dosa.

Sejak kejadian itu, selama dua hari kami tidak berkomunikasi. Hingga akhirnya melalui pesan Whatsapp, aku menyampaikan padanya dengan lebih jelas kalau aku tidak berkenan dengan sikapnya yang seperti itu. Dia pun meminta maaf kepadaku.

Dari peristiwa ini, aku belajar untuk lebih bijak dalam berelasi agar hal-hal seperti itu tidak lagi terulang. Aku tidak lagi membiarkan diriku berada dalam kondisi hanya berduaan dengan lawan jenis seperti yang dulu kulakukan. Aku juga belajar untuk terus setia merenungkan firman Tuhan, mengatur waktuku dengan baik supaya aku tetap dalam kondisi yang fokus dan tidak kelelahan ketika mengerjakan sesuatu. Dan, aku pun membatasi diriku dengan menetapkan sampai di titik manakah relasi itu berjalan seharusnya. Aku tidak lagi membiarkan adanya sikap-sikap yang bisa mendorongku untuk jatuh ke dalam dosa.

Saat aku mengingat kembali kejadian malam itu, aku sadar bahwa berada dalam relasi yang tidak jelas batasannya itu hampir saja menyeretku ke dalam dosa. Tapi aku bersyukur karena Roh Kuduslah yang mengingatkan aku akan firman Tuhan, untuk selalu hidup di dalam Dia dan tidak lagi melakukan dosa. Aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau saja waktu itu Roh Kudus tidak mengingatkanku akan dosa sehingga aku membiarkan partner-ku bertindak lebih jauh.

Aku menanamkan dalam hatiku bahwa Tuhan itu baik. Kasih-Nya begitu besar bagiku. Dosa-dosaku sudah ditebus lunas oleh kematian Yesus di kayu salib, masihkah aku mau melakukan dosa dan kembali menyalibkan Dia?

“Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:15).

*Bukan nama sebenarnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here