Mencari Pekerjaan Itu Sulit, tapi Aku Tidak Menyerah

0
8

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Di awal tahun 2018 aku lulus sebagai seorang Sarjana Ilmu Komunikasi. Layaknya para fresh graduate lainnya yang ingin segera mendapat kerja, aku pun begitu. Aku ingin bekerja sebagai Public Relations atau Marketing Communications di perusahaan besar supaya aku bisa mengaplikasikan ilmu yang kudapat di kuliah ke dalam dunia kerja.

Minggu pertama setelah wisuda, aku mengikuti beberapa job fair yang ada di Yogyakarta. Dengan penuh semangat, aku menjalani tiap tahapan seleksi di perusahaan-perusahaan yang kulamar. Tapi, tidak ada satu perusahaan pun yang aku lolos. Aku gagal di tahapan psikotes. Aku belum menyerah. Setelah rangkaian job fair itu usai, aku mengirimkan puluhan lamaran kerja lewat email. Tapi, hasilnya senada. Email-emailku tidak ada yang dibalas.

Aku masih belum mau menyerah. Lewat grup pencari kerja di Line dan akun-akun lowongan di Instagram, aku mencari-cari perusahaan yang kuanggap sesuai denganku. Aku masih kekeh ingin bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang komunikasi. Sebulan, dua bulan, hingga enam bulan aku tak kunjung juga mendapatkan pekerjaan. Harapanku untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginanku pun meluntur. Ya sudah, sejak saat itu aku sedikit banting setir. Aku melamar ke perusahaan-perusahaan yang menawarkan posisi di luar Public Relations dan Marketing Communications.

Aku kembali gagal

Akhirnya, aku menemukan lowongan yang kurasa tepat buatku. Sebuah agensi periklanan di Tangerang membuka lowongan sebagai Social Media Manager. Tanpa sempat berdoa terlebih dulu, aku segera mengirimkan aplikasi ke sana. Beberapa hari setelahnya, agensi itu membalas emailku. Mereka memintaku datang wawancara tatap muka ke lokasi mereka. Dengan penuh semangat dan tekad untuk segera bekerja, aku berangkat dari Cilacap ke Tangerang.

Selesai wawancara, tahapan selanjutnya adalah mereka memberiku proyek. Aku diminta membuat sebuah kampanye iklan untuk produk otomotif dari klien yang sudah mereka tentukan. Kukerjakanlah proyek itu seserius mungkin, berharap supaya kinerjaku bisa memuaskan mereka.

Tapi, setelah proyek kampanye itu kuserahkan, aku merasa digantung. Agensi itu tidak memberiku kabar apa pun mengenai kelanjutan proses seleksiku. Aku pun memutuskan pulang kembali ke Cilacap. Setelah beberapa hari, barulah mereka mengabariku kalau aku lolos seleksi dan diminta kembali ke Tangerang esok hari untuk melakukan presentasi proyek itu. Aku keberatan, waktunya terlalu mendadak. Jarak antara Cilacap dan Tangerang cukup jauh, apalagi aku tinggal bukan di kotanya, melainkan di sebuah desa kecil di perbatasan provinsi. Jadi aku pun mengajukan penggantian hari. Betapa leganya aku saat mereka mengabulkan permohonanku.

Namun, rasa lega itu tidak bertahan lama. Entah mengapa, agensi itu kembali menelponku. Katanya, aku tidak perlu kembali ke Tangerang karena mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan proses lamaranku. Aku gagal diterima.

Aku kecewa.

Perjalanan mencari kerja selama setengah tahun lebih kembali dijawab dengan hasil yang getir. Lagi-lagi aku gagal. Padahal sebelumnya aku sudah yakin betul kalau aku punya peluang besar diterima di perusahaan itu. Semangatku pun padam. Hatiku sedih. Aku khawatir akan masa depanku. Dan, ketika melihat teman kuliahku yang sudah memiliki pekerjaan, aku pun jadi iri. Rasanya menyenangkan sekali jadi mereka, bisa mengaplikasikan ilmu yang didapati di kuliah dulu di dunia kerja.

Aku tahu iri hati adalah dosa, maka aku berdoa memohon ampun pada Tuhan. Dan, saat aku bercerita kepada temanku tentang pergumulanku mencari kerja dan rasa iri hatiku, dia berkata bahwa mendapatkan pekerjaan itu tidak berarti masalah selesai. Banyak dari teman-teman yang sudah bekerja mengeluh karena pekerjaan mereka yang berat. Ada yang harus kerja lembur sampai larut malam, ada yang merasa pekerjaannya terlalu berat dan tidak sesuai dengan mereka. Bahkan, ada juga yang merasa iri denganku karena dengan aku membantu usaha toko kelontong milik keluargaku, aku bisa dekat dengan ibuku. Hal inilah yang akhirnya menyadariku untuk mengucap syukur dengan keadaanku saat ini.

Kepada Tuhan, aku mengungkapkan bahwa kerinduan hatiku adalah meninggalkan desaku dan bekerja di kota besar, supaya aku bisa mengaplikasikan ilmuku ke dunia kerja. Namun, apabila pada akhirnya aku harus tetap berada di desaku untuk mengusahakan toko kelontong keluargaku dan menemani ibuku yang tinggal seorang diri, aku akan berserah dan bersyukur pada Tuhan. Aku percaya bahwa apa pun hasilnya nanti, Tuhan tahu yang terbaik untukku.

Yang perlu aku lakukan sekarang adalah tetap berdoa dan memohon hikmat dari Tuhan seraya berusaha mencari pekerjaan di luar kota. Sambil membantu usaha ibuku di toko kelontong, aku belajar menulis dan mendesain, supaya ada nilai tambah dalam CV-ku, dan juga melayani di bidang multimedia di gerejaku. Melalui masa penantian ini, aku percaya bahwa Tuhan sedang membentukku untuk memiliki hati yang beriman penuh kepada-Nya.

Sobat, jika saat ini kamu sedang mengalami pergumulan yang sama sepertiku, maukah kamu bersama-sama denganku agar tidak menyerah, tetap berusaha mencari pekerjaan, memohon hikmat, dan percaya pada rencana Tuhan?

“Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here